Home » » Abaikan Saja #Mahwi Air Tawar

Abaikan Saja #Mahwi Air Tawar










Madura yang didera terik semangat matahari mengiringi perjalanan kami. Ya, kami bertiga: Irsyad Mohammad, anak muda yang selalu menggenggam bara semangat revolusi. Budi Prasetyo, sahabat sepenanggunan nasib ketika kami sama-sama nyantri di pesantren Hasyim Asy’ari Yogyakarta. 


Selepas Jembatan Suramadu yang merana, kami berbagi cerita baik cerita usang maupun cerita garang para caleg yang remuk-sengsara lantaran tak terpilih. Tentu cara kami menyuguhkan cerita berbeda-beda: Irsyad Muhammad, misalnya, yang setiap kali mengawali ceritanya selalu penuh bara, semangat berapi yang mungkin tak semua anak muda sepantarannya bisa, dan sudah pasti Budi tak akan bisa memadamkan ceritanya, kecuali saya. 

Budi yang selalu menggumamkan nama sahabatnya, Kiai Yunus BS, yang kini tengah mengekor kepada Bupati Sumenep yang tidak saya hormati.  Budi bercerita, ia teramat sangat kangen kepada sahabatnya, Yunus BS, ingin ia segera bersua, meski dalam setiap nadanya selalu terceletuk nada getir, khawatir, sahabat yang ia rindukan itu tak ada waktu menemuinya. 

Dan Irsyad Muhammad tak habis-habisnya melambungkan kekagumannya kepada setiap diktator Madura yang tak pernah enggan menumpas kejahilan dan sekaligus kepura-puraan. 

Saya sendiri tak paham dengan sekelebat-kelebat bayangan, Madura, tanah kelahiran yang entah sepanjang perjalanan wujudnya hanya tinggal rangka. Madura telah “tiada”, gumam saya. Tak lagi kujumpai rumah-rumah dengan arsitektur  kampung meji, tanean lanjang, dan langkah langkah gemulai perempuan-perempuan perkasa.
 
Setibanya di Sampang, kabupaten yang tak kunjung usai meradang, dan tak habis-habisnya dijadikan objek fitnah baik oleh orang-orang di luar Madura maupun oleh orang-orang Madura sendiri, sehingga Sampang yang saya cintai remuk dikoyak-koyak kekerasan fitnah yang terus mendera dan terkadang menerabas garis batas harga diri orang Madura. Ah, di sini, diam-diam kurindukan sosok kharismatik, Kiai Alawi Muahammad, Kiai yang penuh wibawa dan tak pernah gentar dan pantang mundur hadapi tantangan.
***

Baiklah, kita lupakan cerita duka-lara Madura. Toh, Budi Prasetyo sudah ngorok, Irsyad Muhammad lebih tertarik dengan suasana alam Madura, sehingga ia diam seribu komentar.
Mobil kami tiba di kota kelahiran saya, Sumenep. Saya lihat Ahmad Darus, seniman dan budayawan Sumenep yang mengisi hari-harinya dengan berkarya, mendidik anak-anak sekitar kampung halamannya, Banasare, Rubaru. Tampaknya sudah lama beliau menunggu kedatangan kami. Dengan haru-biru rindu saya memeluknya dengan isak tangis yang tak bisa saya sembunyikan. Dalam pelukannya saya menangis, dalam peluknya saya merengek, dalam pelukannya saya tanya kabar seniman, budayawan yang banyak berperan mengenalkan seni-seni tradisi Sumenep ke manca Negara, Edy Setiawan. “Beliau sakit. Beberapa kali nanya kabarmu,” jawab Pak Darus. 

Ya, lama sudah saya tak bertemu Bapak Edy Setiawan, terakhir 2007 ketika kami berkolaborasi mementaskan topeng dalang dengan konsep virtual di TIM, Jakarta.
Sekeluar dari rumah Pak Edy Setiawan, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Darus, Banasare, Rubaru. Mereka adalah orang-orang yang tulus, seniman-senimat hebat, ujar Pak Darus, ketika saya menggumamkan nama-nama seniman, Pak Edy Setiawan, dalang topeng, almarhum Ki Sappar, penyair Hidayat Raharja, Agus Suhardjoko, Syaf Anton WR, dll. 

Tiba di rumah Pak Darus, Irsyad langsung menagih janji, ‘Om Mahwi, kapan ke pantai Slopeng?’, Budi melirik tak senang, ‘istirahat dulu, Ir, mandi.’ Jawabku.
Selesai mandi kami langsung tancap gas menuju pantai Slopeng. Di sana, tak seorang pun terlihat, di pantai yang oleh pemerintah daerah dipromosikan sebagai tempat wisata itu tak tampak seorang pengunjung lain, kecuali kami berempat. Ahmad Darus, Irsyad, Budi, dan saya sendiri. 

Di pantai, Irsyad tak henti-hentinya bergumam takjub, begitu juga dengan Budi. ‘Ada ya pantai seindah dan perawan ini.’ Sementara saya dan Pak Darus larut diayun angin cerita-cerita, kesenian-kesenian yang mulai habis terkikis.
“Hanya kepadamu saya berharap, segera dokumentasikan, timbalah kearifan-kearifan Madura.” Tegas Pak Darus. “Nanti malam kita ke desa Longos, ada pertunjukan topeng di sana.”

Mendengar dan meresapi baburugan Pak Darus, mendadak ingatan saya disergab sebuah sepotong sajak Selain Laut, Abdul Hadi WM:

Suatu sore aku duduk
mengenang kisah itu kembali, antara kita:
sebuah laut dan juga rerontok tiram,
Mereka semua berdiri dan memanggilku:
cahaya kabur, ombak gaduh yang tak pernah diam
dan bintang laut yang jari-jarinya lunglai—
mereka semua memanggilku dan menjerit-jerit
hingga aku tak mengenalnya kembali

  
Share this article :

0 komentar:

 
Support : Jualan Buku Sastra | Jualan Buku Seni dan Budaya |
Copyright © 2013. areamahwiairtawar - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger